APA YANG DI KHAWATIRKAN RASULULLOH SAW SELAIN DARI MUNCULNYA DAJJAL

14 Maret 3025

Selain Dajjal, Rasulullah ﷺ paling mengkhawatirkan syirik kecil, yaitu riya’ (pamer amal ibadah). Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad, no. 23630, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, no. 33).

Kenapa Rasulullah ﷺ Khawatir Terhadap Riya’?

  1. Tersembunyi – Riya’ sulit disadari oleh pelakunya karena terjadi dalam hati.
  2. Menghapus amal – Amal yang dilakukan karena ingin dipuji manusia tidak diterima oleh Allah.
  3. Merusak keikhlasan – Ibadah seharusnya semata-mata untuk Allah, bukan demi pujian atau pengakuan orang lain.

Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ juga mengkhawatirkan harta dan kemewahan dunia yang bisa melalaikan umatnya dari agama. Beliau bersabda:

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Tapi aku takut jika dunia dilimpahkan kepada kalian sebagaimana telah dilimpahkan kepada orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba untuk mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, hingga dunia membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jadi, selain Dajjal, Rasulullah ﷺ sangat mengkhawatirkan riya’ (syirik kecil) dan godaan dunia yang bisa membuat umatnya lalai dari jalan yang benar.

Rasulullah ﷺ juga mengkhawatirkan munculnya ulama yang buruk atau ulama su’ (ulama yang rusak). Mereka adalah orang-orang berilmu tetapi menyalahgunakan ilmunya untuk kepentingan dunia, kepentingan pribadi, atau menyesatkan umat.

Hadits Tentang Ulama yang Buruk

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah setiap munafik yang pandai berbicara.”
(HR. Ahmad, no. 13579, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 1553).

Ciri-ciri ulama yang buruk:

  1. Menjual agama demi dunia – Mereka menggunakan ilmu agama untuk mendapatkan keuntungan materi, jabatan, atau pujian.
  2. Tidak mengamalkan ilmu – Mereka tahu yang benar tetapi tidak menjalankannya dalam kehidupan pribadi.
  3. Menyesatkan umat – Mereka menyampaikan fatwa atau ajaran yang menyimpang dari kebenaran demi kepentingan tertentu.
  4. Takut pada penguasa, bukan pada Allah – Mereka membiarkan kemungkaran karena takut kehilangan posisi atau keuntungan duniawi.
  5. Memutarbalikkan hukum Allah – Mereka membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar demi kepentingan tertentu.

Bahaya Ulama yang Buruk

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua golongan dari umatku, jika keduanya baik maka umat akan baik, dan jika keduanya rusak maka umat akan rusak: para pemimpin dan ulama.”
(HR. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya, 9/225).

Ulama yang buruk dapat menyebabkan kehancuran moral dan keimanan umat. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam memilih guru atau ulama yang kita ikuti.

Bagaimana Sikap Kita?

  1. Mencari ilmu dari ulama yang benar-benar amanah dan memiliki akhlak baik.
  2. Mengecek sumber ilmu – Apakah sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah?
  3. Tidak mengikuti ulama hanya karena popularitasnya, tetapi karena kebenaran yang ia bawa.
  4. Berdoa kepada Allah agar diberi hidayah untuk bisa membedakan mana ulama yang lurus dan mana yang menyesatkan.

Semoga kita dijauhkan dari fitnah ulama su’ dan selalu diberikan bimbingan untuk mengikuti ulama yang benar.


Komentar

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai