
Bandung, 25 April 2025/1446 H
Prabu Kiansantang (atau Pangeran Kiansantang) adalah salah satu tokoh legendaris dari tanah Sunda, dikenal sebagai putra Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Ia terkenal karena kisah pencariannya tentang hakikat kehidupan, yang akhirnya membawanya memeluk Islam. Berikut adalah ringkasan perjalanan hidupnya, termasuk pertemuannya dengan Syaidina Ali bin Abi Thalib (yang dalam beberapa versi disebut sebagai “Syaidina Alif”) di Mekah.
1. Profil Prabu Kiansantang
- Nama Asli: Raden Sangara atau Raden Kiansantang.
- Ayah: Prabu Siliwangi (Raja Pajajaran).
- Sifat: Sakti mandraguna, ahli perang, dan pemburu kebenaran.
- Awalnya: Seorang penganut Hindu-Buddha yang taat sebelum masuk Islam.
2. Pencarian Kebenaran
Prabu Kiansantang dikenal sebagai kesatria yang tak terkalahkan. Suatu hari, ia mendengar tentang agama Islam dan ingin menemui orang yang bisa mengalahkannya, karena ia yakin hanya orang hebat yang bisa membimbingnya kepada kebenaran.
Versi Pertama (Bertemu Nabi Khidir)
- Dalam beberapa cerita, Kiansantang berkelana mencari Nabi Khidir yang dikatakan bisa memberinya petunjuk.
- Nabi Khidir menyuruhnya pergi ke Mekah untuk menemui seorang guru sejati.
Versi Kedua (Mimpi Bertemu Rasulullah ﷺ)
- Kiansantang bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ, yang memberitahunya untuk pergi ke Tanah Suci.
3. Pertemuan dengan Syaidina Ali di Mekah
Dalam perjalanan ke Mekah, Kiansantang akhirnya bertemu dengan Syaidina Ali bin Abi Thalib (dalam tradisi Sunda sering disebut “Syaidina Alif”).
Dialog dan Ujian
- Kiansantang Menantang Syaidina Ali
- Kiansantang ingin menguji kesaktian Syaidina Ali.
- Ia memanah Syaidina Ali, tetapi panahnya berbalik arah tanpa melukai sang Imam.
- Syaidina Ali menunjukkan mukjizat, seperti mengeringkan sungai dengan sapuan pedang (Zulfikar).
- Dakwah Syaidina Ali
- Syaidina Ali menjelaskan tentang keesaan Allah dan kebenaran Islam.
- Kiansantang terkesima dengan kebijaksanaan dan karomahnya.
- Masuk Islam
- Kiansantang akhirnya mengucapkan syahadat dan memeluk Islam.
- Ia diberi nama baru: Haji Mansyur atau Syeikh Mansyur.
4. Kembali ke Tanah Sunda & Menyebarkan Islam
Setelah masuk Islam, Kiansantang kembali ke Jawa Barat dengan misi:
- Mendakwahkan Islam kepada keluarga dan rakyat Pajajaran.
- Berdebat dengan Prabu Siliwangi tentang kebenaran Islam.
- Mendirikan Pesantren di daerah Garut (dipercaya sebagai Kampung Godog).
Namun, Prabu Siliwangi menolak masuk Islam dan memilih “ngahyang” (menghilang secara gaib) bersama pengikutnya.
5. Wafatnya Prabu Kiansantang
- Beberapa versi menyebutkan beliau wafat di Mekah.
- Versi lain mengatakan dimakamkan di Godog, Karangpawitan, Garut (dipercaya sebagai makam keramat).
6. Analisis Historis & Kontroversi
- Sumber: Kisah Kiansantang lebih banyak berasal dari cerita lisan dan babad Sunda, bukan catatan sejarah resmi.
- Syaidina Ali vs Syaidina Alif:
- Beberapa ahli menyebut “Syaidina Alif” adalah gelar untuk seorang wali, bukan Ali bin Abi Thalib (karena masa hidup tidak sezaman).
- Kemungkinan yang ditemui adalah ulama dari zaman setelah Rasulullah ﷺ.
- Waktu Masuk Islam: Diperkirakan abad ke-15 atau 16, seiring dengan masuknya Islam ke Jawa melalui Wali Songo.
7. Pelajaran dari Kisah Kiansantang
- Pencarian kebenaran harus dilakukan dengan ikhlas.
- Kesombongan ilmu dunia harus ditundukkan di hadapan ilmu Ilahi.
- Islam menyebar di Nusantara melalui pendekatan bijak, bukan kekerasan.
Kesimpulan
Prabu Kiansantang adalah simbol transformasi spiritual dari kesatria Hindu-Buddha menjadi dai Islam. Kisahnya menginspirasi tentang kerendahan hati dan ketulusan mencari kebenaran. Meskipun ada perdebatan historis, pesan moralnya tetap relevan: kebenaran sejati hanya datang dari Allah.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Catatan: Untuk referensi lebih akurat, disarankan mempelajari naskah Babad Sunda atau catatan sejarah Islam Jawa Barat.)
Tinggalkan komentar