Bandung, 16 Nopember 2025

Kajian Lengkap tentang tiga tingkatan iman (percaya kepada Allah – merasa diawasi Allah – merasa bersama Allah), lengkap dengan dalil Al-Qur’an, Hadis, dan penjelasan ulama.
Bahasanya saya buat runut dan mudah dibacakan di pengajian.
🕌 KAJIAN LENGKAP: TIGA TINGKATAN IMAN MENURUT AL-QUR’AN DAN HADIS
Pendahuluan
Dalam pengajaran para ulama, iman tidak hanya berhenti pada keyakinan semata. Iman memiliki tingkatan yang menumbuhkan kualitas hubungan seorang hamba dengan Allah. Banyak ulama tasawuf, akhlak, dan tauhid menyebut tiga tingkatan besar:
- Tingkat pertama: Iman itu percaya kepada Allah.
- Tingkat kedua: Iman itu merasa selalu diawasi Allah (muraqabah).
- Tingkat ketiga: Iman itu merasa selalu bersama Allah (ma’iyyah).
Tiga tingkatan ini selaras dengan Al-Qur’an, Hadis Jibril tentang Ihsan, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.
🌿 1. Tingkat Pertama: Iman adalah Percaya kepada Allah
Ini adalah dasar iman. Hamba mengakui keberadaan Allah, keesaan-Nya, dan rububiyah-Nya.
🔹 Dalil Al-Qur’an
QS. Al-Ikhlash: 1–4
“Dialah Allah Yang Maha Esa…”
QS. Al-Baqarah: 163
“Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia…”
Ayat-ayat ini menetapkan keyakinan bahwa Allah itu ada, Esa, dan tiada sekutu bagi-Nya.
🔹 Dalil Hadis
Hadis Jibril yang sahih (HR. Muslim):
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah…”
Penjelasan ulama:
Iman pada tingkat ini disebut tashdîq, yaitu membenarkan dalam hati. Inilah pondasi yang tanpanya tidak ada bangunan iman.
🌿 2. Tingkat Kedua: Merasa Selalu Diawasi Allah (Muraqabah)
Tingkatan ini muncul setelah keyakinan dasar tercapai. Hamba menyadari sepenuhnya bahwa Allah mengetahui segala gerak-geriknya, baik lahir maupun batin.
🔹 Dalil Al-Qur’an
QS. Qaf: 16
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
QS. Al-Mulk: 14
“Tidakkah Dia yang menciptakan mengetahui? Dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
QS. Al-Hadid: 4
“Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Allah Mahatahu, Maha Melihat, dan tidak ada yang tersembunyi dari-Nya.
🔹 Dalil Hadis
Hadis Jibril (HR. Muslim) tentang Ihsan:
“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
Ini adalah pengertian muraqabah: hati hidup dengan rasa diawasi Allah.
🔹 Penjelasan Ulama
Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa muraqabah adalah:
“Perhatian hati kepada Allah yang selalu mengawasi dan mengatahui rahasia hati.”
Tingkat ini membuat seorang mukmin berhati-hati, menjauhi maksiat sekalipun tidak dilihat manusia.
🌿 3. Tingkat Ketiga: Merasa Selalu Bersama Allah (Ma’iyyah / Musyâhadah)
Ini adalah tingkat tertinggi dalam bab keimanan dan ihsan. Hamba merasakan kebersamaan Allah: bukan secara fisik, tetapi secara ilmu, rahmat, kasih sayang, perlindungan, dan pertolongan.
⚠️ Catatan Penting
Ahlus Sunnah wal Jamaah menegaskan:
Kebersamaan Allah bukan berarti Allah menyatu dengan makhluk, karena Allah berada di atas Arsy, namun ilmu dan pengawasan-Nya mencakup seluruh makhluk.
🔹 Dalil Al-Qur’an
QS. At-Taubah: 40
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
QS. An-Nahl: 128
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan berbuat ihsan.”
QS. Al-Baqarah: 186
“Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat…”
Ayat-ayat ini menunjukkan ma’iyyah khusus — kebersamaan Allah bagi hamba-hamba pilihan-Nya.
🔹 Dalil Hadis
Hadis tentang pertolongan Allah:
“Jagalah Allah, niscaya Allah menjagamu…”
(HR. Tirmidzi)
Nabi SAW menggambarkan kedekatan Allah kepada hamba yang bertawakal, sabar, dan bertakwa.
🔹 Penjelasan Ulama
Para ulama membagi “kebersamaan Allah” menjadi dua jenis:
- Ma’iyyah umum:
Allah bersama seluruh makhluk dengan ilmu dan pengawasan-Nya.
Dalil: QS. Al-Hadid:4. - Ma’iyyah khusus:
Allah bersama orang beriman, memperkuat, memberi rahmat, menolong, dan menenangkan hati mereka.
Dalil: QS. At-Taubah:40.
Inilah yang dimaksud tingkatan ketiga ini.
🌿 Kesimpulan Kajian
Tiga tingkatan iman ini menggambarkan perjalanan spiritual seorang Muslim:
1. Percaya kepada Allah
→ Menerima keberadaan, keesaan, kekuasaan, dan sifat-sifat-Nya.
2. Merasa selalu diawasi Allah (muraqabah)
→ Membuat ibadah lebih khusyuk dan menjauhi maksiat, karena sadar Allah selalu melihat.
3. Merasa selalu bersama Allah (ma’iyyah)
→ Hati menjadi tenang, yakin, tawakal, dan penuh harapan, karena merasa mendapat pertolongan Allah.
Ketiganya saling melengkapi.
Iman tanpa muraqabah menjadi lemah.
Muraqabah tanpa ma’iyyah menjadi kering.
Ma’iyyah tidak mungkin dicapai tanpa dasar iman.
🌿 Kalimat Penutup Kajian
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang:
- imannya benar,
- muraqabahnya kuat, dan
- merasakan kebersamaan Allah setiap saat.
Aamiin.
Tinggalkan komentar