Tauhid, Sifat 20, dan Pengenalan Diri (Ma’rifatullah).


Kajian di Bulan Ramadhan

Tauhid, Sifat 20, dan Pengenalan Diri

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji hanya milik Allah SWT yang telah menciptakan kita, memberi kita iman dan Islam, serta memberi kesempatan kepada kita untuk beribadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan kepada kita semua sebagai umatnya hingga akhir zaman.

Pembaca yang dimuliakan Allah.

Hakikat agama Islam adalah tauhid, yaitu mengenal dan mengesakan Allah SWT. Bahkan tujuan utama manusia diciptakan adalah untuk mengenal dan menyembah Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Para ulama menjelaskan bahwa ibadah tidak akan sempurna tanpa mengenal Allah dengan benar.

Karena itu dalam ilmu aqidah dikenal pembahasan tauhid dan sifat-sifat Allah.


Tauhid dalam Mengenal Allah

Para ulama menjelaskan bahwa tauhid dapat dipahami melalui beberapa aspek.

1. Tauhid Dzat

Tauhid dzat adalah meyakini bahwa Allah itu Esa dalam Dzat-Nya.

Allah tidak tersusun dari bagian-bagian, tidak memiliki bentuk, tidak serupa dengan makhluk.

Sebagaimana firman Allah:

“Laisa kamitslihi syai’un”
Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia.


2. Tauhid Sifat

Tauhid sifat adalah meyakini bahwa Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan.

Dalam aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, para ulama merumuskan Sifat 20 sebagai cara untuk mengenal kesempurnaan Allah.

Di antaranya:

  • Wujud → Allah itu ada
  • Qidam → Allah tidak berpermulaan
  • Baqa → Allah tidak akan berakhir
  • Mukhalafatu lil hawadits → Allah tidak menyerupai makhluk
  • Qiyamuhu binafsih → Allah berdiri sendiri
  • Wahdaniyah → Allah Maha Esa

Kemudian sifat kesempurnaan seperti:

  • Qudrah (Maha Kuasa)
  • Iradah (Maha Berkehendak)
  • Ilmu (Maha Mengetahui)
  • Hayat (Maha Hidup)
  • Sama’ (Maha Mendengar)
  • Bashar (Maha Melihat)
  • Kalam (Maha Berfirman)

Sifat-sifat ini menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Sempurna dan Maha Mutlak.


3. Tauhid Asma

Tauhid asma adalah meyakini nama-nama Allah yang indah, yang dikenal dengan Asmaul Husna.

Setiap nama Allah menggambarkan kesempurnaan sifat-Nya.

Misalnya:

  • Ar-Rahman → Allah Maha Pengasih
  • Al-‘Alim → Allah Maha Mengetahui
  • Al-Qadir → Allah Maha Kuasa

Semakin seseorang mengenal nama-nama Allah, semakin kuat imannya.


4. Tauhid Af’al

Tauhid af’al adalah meyakini bahwa segala yang terjadi di alam semesta adalah dalam kekuasaan dan kehendak Allah.

Allah yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam.

Tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin Allah.


Pengenalan Diri sebagai Jalan Mengenal Allah

Pembaca yang dimuliakan Allah.

Para ulama tasawuf mengatakan sebuah hikmah:

“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.”
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.

Maksudnya adalah ketika kita menyadari kelemahan diri kita, kita akan melihat kebesaran Allah.

Contohnya:

Ketika kita menyadari bahwa kita lemah, kita tahu bahwa Allah Maha Kuat.

Ketika kita menyadari bahwa ilmu kita sangat terbatas, kita tahu bahwa Allah Maha Mengetahui.

Ketika kita menyadari bahwa hidup kita akan berakhir dengan kematian, kita tahu bahwa Allah Maha Kekal (Baqa).

Ketika kita menyadari bahwa kita selalu membutuhkan makanan, udara, dan pertolongan orang lain, kita tahu bahwa Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apa pun.

Inilah yang disebut oleh para ulama sebagai ma’rifatullah, yaitu mengenal Allah melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya.


Buah dari Tauhid

Jika tauhid benar-benar tertanam dalam hati, maka akan melahirkan beberapa sikap:

1. Ikhlas dalam ibadah

Kita hanya menyembah Allah, bukan mencari pujian manusia.

2. Tawakal kepada Allah

Kita berusaha, tetapi hati kita bersandar kepada Allah.

3. Tidak sombong

Karena kita sadar semua yang kita miliki berasal dari Allah.

4. Sabar terhadap takdir

Karena kita yakin semua yang terjadi adalah kehendak Allah.


Penutup

Pembaca yang dimuliakan Allah.

Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi kita untuk memperkuat tauhid, memperdalam pengenalan kita kepada Allah, dan membersihkan hati kita dari kesombongan dan ketergantungan kepada selain Allah.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang benar-benar mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan taat kepada-Nya.

Amin ya Rabbal ‘alamin.

Akhir kata,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai