Dalam manhaj Ahlusunah wal Jamaah (Aswaja), penetapan 1 Syawal (Idulfitri) umumnya menggunakan dua pendekatan utama:

1. Rukyatul Hilal (melihat bulan)

Berdasarkan hadis Nabi ﷺ:

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah (Idulfitri) karena melihatnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

2. Istikmal (menyempurnakan 30 hari)

Jika hilal tidak terlihat, maka bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.


📅 Perkiraan Idulfitri 1447 H / 2026

Secara hisab (perhitungan astronomi), ijtimak (konjungsi) terjadi sekitar:

  • 18 Maret 2026

Namun, tinggi hilal di Indonesia saat maghrib masih sangat rendah (bahkan cenderung belum memenuhi kriteria imkan rukyat).

👉 Maka menurut pendekatan rukyat + imkan rukyat (yang umum dipakai Aswaja seperti NU):

➤ Idulfitri kemungkinan besar jatuh pada:

Jumat, 20 Maret 2026


🧭 Penjelasan Manhaj Aswaja (khususnya NU)

Organisasi seperti Nahdlatul Ulama menetapkan awal bulan dengan:

  • Hisab sebagai panduan
  • Rukyat sebagai penentu utama (itsbat)

Jika hilal tidak terlihat pada 18 Maret, maka:

  • Ramadan digenapkan 30 hari
  • Idulfitri jatuh 20 Maret 2026

⚖️ Catatan Penting

  • Keputusan resmi tetap menunggu sidang itsbat pemerintah (Kemenag RI).
  • Bisa saja terjadi perbedaan dengan metode lain (misalnya hisab murni seperti Muhammadiyah).

🕌 Kesimpulan

👉 Menurut manhaj Sunah wal Jamaah (rukyat + istikmal):
Idulfitri 1447 H diperkirakan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026


Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai