Bandung, 7 Juli 2025
Samiri adalah seorang tokoh kontroversial yang disebut dalam Al-Qur’an pada kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, terutama terkait insiden penyembahan patung anak sapi emas oleh Bani Israil. Kisah ini terdapat dalam beberapa ayat, terutama dalam:
📖 Surat Thaha ayat 85-97
🧔🏻 Siapa Samiri?
Samiri adalah seorang lelaki dari kaum Bani Israil yang disebut telah menyesatkan kaumnya dengan membuat patung anak sapi dari emas yang mengeluarkan suara, lalu berkata bahwa itulah “Tuhan” mereka dan Tuhan Musa.
“Sesungguhnya Kami telah menguji kaummu (wahai Musa) sesudah (kepergian)mu, dan Samiri telah menyesatkan mereka.”
— QS. Thaha: 85
🔨 Apa yang Dilakukan Samiri?
- Ketika Nabi Musa pergi ke Gunung Sinai untuk menerima wahyu selama 40 hari, Samiri mengumpulkan perhiasan emas dari kaum Bani Israil.
- Ia kemudian membuat patung anak sapi dari emas, yang bisa mengeluarkan suara (seperti melenguh).
- Samiri berkata kepada mereka bahwa itulah Tuhan mereka dan Tuhan Musa, lalu mereka menyembah patung itu.
- Harun ‘alaihis salam, saudara Musa, berusaha mencegah, namun tidak berhasil karena tekanan dari masyarakat.
🔍 Apa Kata Nabi Musa dan Allah Tentang Samiri?
Saat Nabi Musa kembali dan marah besar, ia memarahi Samiri:
“Maka pergilah kamu! Sesungguhnya (di dunia ini) bagimu hukuman bahwa kamu akan berkata: ‘Jangan menyentuh aku’; dan sesungguhnya kamu akan mendapat hukuman yang tidak akan bisa kamu hindari di akhirat.”
— QS. Thaha: 97
Allah menjadikan Samiri sebagai orang terasing (disebut hukuman “laa misaas” = jangan disentuh) dan menjanjikan azab kelak di akhirat.
🤔 Siapakah Samiri Menurut Tafsir?
Dalam tafsir klasik (seperti Tafsir Ibn Katsir dan Al-Baghawi):
- Namanya diyakini adalah Musa bin Zafar dari kaum Samaria atau berasal dari Mesir.
- Ia dikenal munafik atau licik. Ia berpura-pura mengikuti Nabi Musa, tetapi menyimpan niat buruk.
- Ada yang mengatakan ia melihat Jibril saat kuda Jibril lewat, lalu mengambil debu dari jejak kaki Jibril dan menaburkannya ke dalam patung, sehingga patung itu tampak “hidup”.
🧠 Hikmah dari Kisah Samiri:
- Jangan mudah terpedaya dengan fitnah, bahkan dari orang yang kelihatannya religius.
- Pemimpin yang pergi terlalu lama bisa menyebabkan fitnah dan penyimpangan dalam umat.
- Syirik dan penyembahan berhala adalah dosa besar, meskipun dilakukan dengan alasan simbolis.
Tinggalkan komentar